liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Ilustrasi jomblo kesepian.

Jumat, 16 Desember 2022 – 15:36 WIB

VIVADigital – Menjadi lajang atau lajang mungkin membuat banyak orang bahagia. Bebas melakukan apapun, tidak ada pasangan yang cerewet sehingga tidak perlu menghabiskan waktu untuk orang lain.

Namun, “sayangnya” orang lajang atau selibat akan lebih cepat meninggal. Bagaimana bisa?

Para peneliti dari University of Louisville di Kentucky menganalisis 90 studi sebelumnya tentang subjek tersebut, dan menemukan bahwa pria yang tetap melajang bisa meninggal 8 hingga 17 tahun sebelum pria menikah, sedangkan wanita yang tetap melajang bisa meninggal 7 hingga 15 tahun sebelum wanita menikah. Studi tersebut, pertama kali dilaporkan oleh MSNBC.

Sudah lajang terlalu lama.

Peneliti mengatakan hal ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa ada lebih banyak dukungan sosial dan bantuan publik untuk pasangan menikah. Misalnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pria menikah berhasil pergi ke rumah sakit karena serangan jantung lebih cepat daripada pria lajang.

Menurut sebuah survei baru, pria lajang memiliki risiko kematian seumur hidup 32 persen lebih tinggi daripada pria yang menikah atau memiliki pasangan, sementara wanita lajang memiliki risiko kematian seumur hidup 23 persen lebih tinggi daripada wanita yang menikah atau dalam seorang mitra, kata sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology.

Namun, penting untuk dicatat bahwa para peneliti melihat studi yang dilakukan pada subjek yang diterbitkan selama 60 tahun terakhir. Selain itu, analisis tersebut juga tidak memperhitungkan pengaruh pernikahan yang buruk terhadap umur panjang, lapor MSNBC.