liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Ilustrasi orang tua ajarkan anak toilet training

Jumat, 16 Desember 2022 – 01:32 WIB

VIVA Digital – Sebuah teknologi medis baru yang agak unik dan aneh dapat mendeteksi penyakit feses yang mematikan pada seseorang hanya dengan mendengarkan suara feses yang disiram ke toilet.

Menurut laporan Eurek Alert, dilansir New York Post, “The Diarrhea Detector”, begitu perangkat itu dijuluki, adalah sistem suara berteknologi tinggi yang dapat menunjukkan ketika seseorang memiliki penyakit usus yang parah, seperti kolera, a penyakit yang menyebabkan kematian 150.000 orang setiap tahunnya.

Situasi ini diciptakan oleh Maia Gatlin dari Georgia Institute of Technology, yang baru-baru ini mempresentasikan tesisnya yang berjudul “The poop thesis: Using machine learning to deteksi diare” kepada Acoustical Society of America.

Sebuah alat canggih bernama The Diarrhea Detector

Sampel suara dari setiap sesi buang air besar diubah dengan kuat menjadi spektogram audio. Dalam keadaan darurat, mesin “non-invasif” ini dapat mengisolasi nada setiap pengguna toilet dengan konsistensi gelombang suara saat buang air besar.

Data kotoran yang sangat sensitif ini kemudian diproses melalui algoritme untuk klasifikasi tertentu. Algoritme telah diuji dengan benar untuk memperhitungkan kebisingan latar belakang toilet, terlepas dari kebisingan lingkungan di sekitar sensor.

“Harapannya sensor ini, yang berukuran kecil dan memiliki pendekatan non-invasif, dapat digunakan di daerah di mana wabah kolera merupakan risiko konstan,” kata Gatlin.